Memflashback cerita mengenai mama saya.
Mama saya seorang yang bukan pemilih dalam hal makanan. Tapi entah kenapa dia bermasalah di bagian perut, kanker usus.
Pertama saya tahu mama sakit kanker adalah dari opung saya. Mungkin dia melihat saya ini terlalu cuek terhadap mama saya. Jelas saya tidak terlalu memperhatikan sampai sebegitunya, karena yang saya tahu adalah mama sakit perut biasa. Dan saya juga sibuk dengan persiapan UN.
Setelah saya tahu hal itu, saya sangat marah sekali pada mama dan papa saya. Mereka tidak memberitahukan kepada saya hal penting yang harusnya saya tahu dari mulut mereka. Tapi justru saya tahu bukan dari mereka. Saya sungguh kesal saat itu.
Setelah melihat saya marah, mama langsung menjelaskan mengapa mereka tidak memberitahukan kepada saya. Ternyata mereka tidak ingin saya yang sedang stres mempersiapkan UN menjadi tambah stres karena mama yang sakit. Mereka tidak ingin menambah beban saya. Akhirnya saya mengerti dan tidak marah lagi.
Begitu banyak pengobatan yang mama jalani. Tradisional ala Jawa, tradisional ala Chinese, ke Rumah sakit Pemerintah, Rumah sakit Swasta, Rumah sakit Khusus Kanker, dan bahkan sampai ke Malaysia. Setiap hari kami selalu berdoa dan semakin tekun dalam berdoa untuk kesembuhan mama.
Saya juga semakin dekat dengan mama. Bahkan mama tidak mau minum obat jika bukan saya yang menyuapi dia makan dan minum obat. Jadi jika pagi sebelum sekolah, saya bangun lebih pagi untuk menyuapi dia sarapan dan minum obat. Begitu juga malamnya. Dan setiap siang, saya selalu menolak ajakan teman yang mengharuskan kerja kelompok atau bermain karena mama pasti menunggu aku pulang dulu baru mau makan. Saya tidak bisa merasakan bagaimana enaknya bermain setelah pulang sekolah.
Setiap di sekolah saya selalu tidak tenang. Saya hanya ingin pulang dan bertemu mama. Saya tidak fokus ke pelajaran, bahkan saya sampai punya nilai merah di raport (hanya 1 kali itu seumur umur saya duduk di bangku sekolah).
Sewaktu saya ret-reat, sebenarnya tidak mau pergi, tapi mama memaksa agar saya ikut ret-reat. Mungkin dia kasihan melihat saya yang lelah karena beban saya saat itu. Jadi dia menyuruh saya untuk refreshing sejenak.
Disana ada acara doa malam, dipimpin seorang pastur. Dan dia menceritakan bahwa pernah ada seorang anak lelaki yang mengikuti ret-reat saat ibunya sedang sakit. Malam harinya anak ini meminta pulang ke Jakarta karena perasaan dia tidak enak. Benar ternyata bahwa malam itu pula dia diantar supir pulang ke Jakarta karena ditelepon papanya bahwa mamanya sudah meninggal. Saya shock mendengar cerita itu, karena saya juga mengalaminya saat itu. Setelah doa malam itu, saya benar-benar tidak bisa tidur. Handphone dipegang guru selama ret-reat. Dan saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar mama saya tidak kenapa-kenapa.
Saat pulang ke Jakarta, saya melihat ada bendera kuning di gang besar rumah saya. Langsung saya lihat dengan jelas nama siapa yang tertulis di bendera itu. Sampai 2 kali untuk memastikannya. Bersyukur karena bukan nama mama saya yang tertulis. Saya melihat mama saya ternyata masih tidur-tiduran sambil menonton tv. Saya bersyukur sekali.
Selama mama saya sakit parah, setiap pulang sekolah dan melihat ada bendera kuning di gang besar rumah saya, saya langsung melihat nama yang tertulis. Dan setiap ada ambulans lewat, saya berharap itu bukan menuju ke arah rumah saya. Semenjak mama sakit inilah, saya memiliki trauma dengan ambulans, saya takut dengan ambulans. Badan langsung lemas seketika.
Pada hari senin, 23 April 2007, pukul 06.35 WIB, akhirnya mama pulang ke rumah Bapa. Saya adalah orang pertama yang langsung papa peluk dan dia berkata: “selama ini mama sudah capek karena sakit, apa kamu ga kasihan?”. Tapi saya tetap menggoyang-goyang tubuh mama dan memaksanya minum obatnya. Yang saya pikirkan adalah bagaimana agar dia tetap bisa hidup. Saya tidak peduli dengan perkataan orang yang bilang mama sudah bahagia karena sudah lepas dari sakitnya. Saya butuh mama. Saya masih kecil saat itu. Saya butuh. Dan saya ingin mama dikembalikan Tuhan nyawanya.
Sejak saat itu saya sempat tidak mau ke gereja dan “kecewa” pada Tuhan. Saya malas mendengar kata-kata bahwa Tuhan bisa memberikan mukjizat. Atau kata-kata mukjizat itu nyata. Karena saya tidak melihat itu. Mata saya dibutakan kekecewaan kepada Tuhan, sehingga mungkin saya hampir gila saat itu. Benar-benar kehilangan terbesar dalam hidup seorang anak yang belum genap 15 tahun.
Sekarang saya sudah mengerti mengapa Tuhan ingin hal ini terjadi. Dan hal terbesar yang saya syukuri setelah kejadian ini adalah bahwa saya masih sempat merawat mama yang sakit dan kami sekeluarga bisa melihat mama menutup mata selama-lamanya. Saya rasa tidak semua orang beruntung seperti saya yang bisa merawat mama mereka. Saya bersyukur. Saya beruntung. Dan saya percaya bahwa mama melihat saya dan melindungi saya dengan “cara”nya. Meski saya tidak bisa melihatnya, namun dia berada di sekitar saya, atau mungkin dia juga berada disamping saya saat saya menulis ini. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.