Dear blog, ga terasa ini masuk pertengahan bulan april.
Menilik kembali ke beberapa tahun yang lalu, tepat 7 tahun yang lalu. 23 april 2007. Pukul 06.35 WIB. Ya itu adalah waktu dari kepergian mama ke pangkuan Bapa Di Surga. Yang mau saya tulis sekarang adalah mau melihat lagi perubahan yang terjadi dalam diri saya setelah kepergian mama ke surga. Yuk kita list.... :
1. Setelah mama "pergi" ke surga, jelas dong saya jadi lebih dekat dengan Tuhan, ya ga "holy-holy" banget sih, tapi setidaknya ketika saya punya masalah, saya yang bertipe sulit bercerita pada keluarga, akan lebih memilih curhat ke Tuhan. Dan pasti ujung doa nya bilang: "Tuhan, titip salam ya sama mama, bilang ke mama, echa kangen banget sama mama. Kalau bisa sih dateng ke mimpi echa malam ini." yailah deh ya, doanya ga banget ye.
2. Setelah mama "pergi" ke surga, saya menjadi lebih dekat dengan papa. Jujur saja sih, dulu saya bukan orang yang dekat dengan papa, karena saya merasa beliau tidak sayang pada saya, karena banyak hal yang menunjukkan dia lebih "peduli" dengan anak-anaknya yang pintar dalam eksakta, alias ilmu pasti. Dan saya mungkin tidak sepandai adik saya. Oke fixed, saya merasa hanya "anak" mama saja saat itu. Oleh sebab itu, saya sangat terpukul dengan meninggalnya mama. Saya sangat sayang mama saya.
3. Setelah mama "pergi" ke surga, saya jadi lebih peduli dan lebih banyak komunikasi dengan adik-adik saya. Kenapa? Karena dulu mama sempat berpesan agar saya benar-benar menjadi kakak yang bertanggung jawab sebagai anak yang sulung. Menjaga adik saya agar tetap di jalan yang benar. Ini sulit loh, sulit sekali. Apalagi sifat saya agak bertolak belakang dengan adik-adik saya. Terkadang berpikir bahwa lebih enak tidak menjadi anak sulung kalau punya beban seperti ini. Hahahaha...
4. Setelah mama "pergi" ke surga, saya lebih banyak belajar untuk bisa masak, nyetrika, dan lain-lain, ya tapi tetep ya masak itu susah, ya jadinya tetep aja masih jauh dari kata "bisa". Belajar lagi sih lebih tepatnya. Hahahaha...
5. Setelah mama "pergi" ke surga, saya jadi lebih banyak berpikir untuk "menghemat". Karena ketika mama ga ada, si papa jadi lebih banyak bercerita kesusahan dia mengatur uang. So, saya jadi kasihan, dan belajar lebih irit dari sebelumnya.
6. Setelah mama "pergi" ke surga, saya memiliki rasa tidak enak yang dalam ketika nilai saya jelek dan IP saya turun, meskipun ga terlalu bisa hitungan, tapi saya jadi lebih banyak minta tolong teman untuk mengajari saya, agar IPK saya bisa lah diatas 3. itu aja sih permohonannya ke Tuhan. Perjuangan banget mempelajari hal yang sebenarnya sulit. Pengennya yang teori kayak komunikasi atau marketing, eh nyasar ke finance yang tiap hari ketemu rumus dan angka. Ya keriting deh otak. Wkwkwkwk....
7. Setelah mama "pergi" ke surga, saya jadi lebih suka was-was dan cemas jika keluarga pulang tidak tepat waktu. Jika ada yang sakit, saya juga lebih memperhatikan mereka, ketimbang saat mama saya masih ada. Tingkat kepedulian saya terhadap orang lain itu cuma 5 deh dulu. Cuek bebek. Tapi sekarang saya selalu mendoakan keluarga saya, terlebih agar mereka jauh dari bahaya. Apalagi untuk papa.
8. Setelah mama "pergi" ke surga, saya berusaha untuk bisa mandiri kemana-mana. Bahkan saya juga sering mengambil raport adik saya, dan juga ikut rapat ke sekolah. Malu, jujur iya. Tapi saya percaya kalau rasa "malu" saya akan terbayar suatu saat nanti.
9. Setelah mama "pergi" ke surga, saya jadi lebih banyak mencari kegiatan positif seperti organisasi kampus ataupun ikut pelayanan di gereja. Puji Tuhan.
10. Setelah mama "pergi" ke surga, ya setelah beliau ga ada harus sering-sering menyemangati diri sendiri. Ya harus realistis, sikon gak kayak dulu yang kalau dapet nilai jelek ngadu ke mama, trus ujungnya tidur samping mama sambil diusap-usap rambutnya atau punggungnya.
Jujur saya akui, saat mama pergi, saya sering kali menjadi orang yang kurang memiliki kepercayaan diri dalam melakukan suatu hal, terlebih saat saya sempat gagal. Ayah saya mendidik saya dengan keras, dan memilih mendidik dengan cara "menjelekkan" anaknya dengan harapan jika anaknya dipojokkan oleh beliau, anaknya ini akan membuktikan bahwa apa yang di"jelek-jelekkan" oleh ayah itu tidak benar, alias dia berharap si anak ini akan berusaha bangkit dari hal yang menurut si anak ini tidak bisa dia lakukan.
Sedangkan saya tipikal orang yang akan semakin malu berkembang jika saya sempat gagal dan saat gagal malah di "pojokin". Oleh sebab itu saya sangat sayang mama saya, karena dia yang selalu support saya bahkan di tengah ketidakmampuan saya mendapat angka 80 di Ujian Matematika dan Fisika.
Tapi saya menyadari kasih Tuhan tetap menyertai saya sampai saat ini. Tuhan tetap memegang saya bahkan ketika saya sempat jauh dari Tuhan. Ah Tuhan, mengapa Engkau begitu luar biasa baiknya?? Terima kasih Tuhan Yesus. ENGKAU sungguh LUAR BIASA.