Pada saat menulis ini,
Aku seperti meresonansi pikiranku pada saat aku masih bersama dia yang ku sayang.
Aku tak mau sebut kapan pastinya.
Sudah berusaha untuk melupakan.
Walau ternyata sulit.
Begitu banyak hal yang dilewati.
Tak satupun bisa dihilangkan dari pikiran.
Jika ada alat yang bisa menghilangkan memory yang tak ingin diingat.
Maka aku segera berlari dan menjadi orang pertama yang membelinya.
Sulitt...
Bahkan lebih sulit dari semua mata pelajaran yang pernah kupelajari.
Lebih sulit dari perkiraanku saat aku dan dia, awalnya memutuskan untuk menjalani kehidupan sendiri-sendiri.
Lebih sulit dari pada menemui dosen yang marah akibat ulahku dikelas.
Tak perlu menyebut nama.
Aku tak bisa sebut disini.
Yang jelas dia orang yang paling ku sayang bahkan sampai detik ini.
Berusaha dan terus berusaha.
Meski aku tahu itu perlu waktu.
Entahlah..
Hanya itu yang bisa aku katakan.
Bahkan saat aku tahu,
Bahwa sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain seutuhnya.
Menangis.
Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Bahkan disaat aku berkata aku sudah melupakannya.
Bahkan disaat aku mencoba untuk membalas smsnya.
Dan mengucapkan selamat untuk lamarannya.
Perih.
Bahkan lebih perih dari pada luka saat aku masih kecil.
Saat aku jatuh dari sepeda.
Saat aku disuntik dokter.
Saat aku mendapatkan cacian dari orang lain.
Menjerit.
Ingin rasanya menjerit.
Bahkan saat aku mencoba untuk tenang.
Dan saat semua teman menghiburku.
Terima kasih.
Hanya itu yang bisa kuucapkan.
Bahkan saat semua yang kami lalui, suka dan duka.
Karena aku tahu,
Dia yang mengajarkan aku untuk menjadi wanita tegar.
Bahkan disaat aku merasa tidak mampu.
Bahkan disaat aku terpuruk.
Dan disaat aku merasa rapuh.
Cukup…
Cukup sakit.
Cukup menguras air mata..
Cukup membuat kerongkongan kering.
Cukup membuat insomnia.
Cukup membuat sulit belajar.
Cukup membuat sering melamun.
Cukup…
Cukup…
Cukup………
Aku tak mau terpuruk dalam gelapnya dunia percintaan.
Aku tak mau menjadi duri buat hubungan yang akan di-sahkan.
Aku tak mau menjadi orang yang mengecewakan orang tuaku karena nilai merosot akibat memikirkan dia.
Aku tak mau pelayananku hancur karena dia.
Aku tak mau merusak diriku karena insomnia memikirkan dia yang tak mungkin kembali padaku.
Aku tak mau..
Aku tak mau..
Aku tak mauuuuuuuu….
Sungguh, aku lelah..
Cukup disini aku membuang “sampah”ku.
Tak berharap kalian membaca.
Hanya ingin meluangkan yang ada di hati dan pikiran.
Semua untuk kebaikan.
Agar tak menambah daftar panjang orang yang mati karena depresi. :p
Selamat malam sobat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.