Jumat, 28 Juni 2013

At Least

Kadang aku iri…
Iri terhadap aku yang masih kecil.
Iri terhadap diriku waktu kecil…
Aku bisa bermain dengan bahagianya dengan teman-temanku.
Jika kami bertengkar karena kesalahanku, aku hanya perlu memberikan jari kelingkingku dan meminta maaf sambil tersenyum. Lalu kami bermain lagi.
Aku bisa menangis di depan orang lain tanpa ada rasa malu akan ditertawai.
Dan setelah aku menangis, aku hanya cukup diberikan susu ultramilk, dan aku menjadi tenang.
Saat aku jatuh, dan ditertawakan, aku malah ikut tertawa dengan orang yang menertawakan aku.
Saat aku terluka, aku hanya butuh satu handsaplast untuk menutup lukaku.
Saat aku dimarahi oleh ayah atau ibuku, aku hanya diam dan menyesali perbuatanku.
Kini……
Aku menyesali mengapa waktu begitu cepat berlalu,
Aku begitu ingin kembali ke masa itu.
Masa dimana hanya ada tawa. Tangis yang hanya beberapa saat saja, pertengkaran yang hanya beberapa jam saja. Sedih yang akan tidak lama menjadi suka.
Ahhh…
Aku bosan menjadi dewasa.
Aku bingung dengan perubahan dalam diriku dan mungkin teman-temanku.
Pertengkaran orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberikan jari kelingking dan meminta maaf sambil tersenyum. Lalu kami menjadi melupakan kesalahan masa lalu.
Tangisku sekarang juga tidak bisa di depan orang banyak. Hanya beberapa yang pernah melihatku menangis. Dan tangisku juga tidak semudah dulu berhenti walaupun aku diberikan susu ultramilk.
Saat aku jatuh dan ditertawakan orang lain, aku bukan ikut tertawa. Aku malah menjadi kesal dengan mereka.
Saat aku terluka karena orang lain, tidak cukup hanya satu handsaplast untukku.
Saat aku dimarahi oleh ayah ibuku, aku banyak membantah tanpa menyesali perbuatanku.
Lalu siapa aku yang sekarang???
Mungkin itu menjadi pertanyaan dari diriku dan dari orang lain.
Apa aku adalah reinkarnasi dari orang lain??
Tapi aku kan belum mati.
Pertanyaan di benakku…
Mengapa aku iri terhadap diriku sendiri??
Aku sudah merasakan itu –dulu-.
Aku sudah merasakan hal itu bahkan dalam hitungan tahun.
Mengapa aku iri?
Itu kan diriku juga.
Aku hanya perlu membenahi diri dan membuat diriku seperti saat aku yang seperti itu.
Hanya itu!!!
Mengapa menjadi orang dewasa itu sulit???
Tapi aku tidak bisa memutar waktu.
Saat ini, aku hanya perlu menangis dan bangkit.
Diriku yang dulu belum patah. Hanya rusak sedikit.
Terima kasih masa kecilku. Setidaknya aku pernah menjadi orang yang menyenangkan. Dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.